Kisah Seorang Pemuda dan Istrinya, Su’ad [1]

Berikut adalah kisah yang dimuat dalam kitab Ringkasan Bidayah wa  Nihayah Ibnu Katsir[2]. Terjadi pada tahun 58H atau sekitar 591M.[3]

Ketika Mu’awiyah (bin Abi Sufyan-red) sedang berada di Simath, tiba-tiba seorang pemuda dari bani Adzrah muncul di hadapannya. Ia mendendangkan sebuah syair yang berisi ungkapan rasa rindunya kepada istrinya, Su’ad.

Mu’awiyah lalu memintanya mendekat kepadanya dan memintanya agar menceritakan apa yang dia alami.
Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku telah menikah dengan anak perempuan Pamanku. Aku memiliki seekor unta jantan dan kambing yang aku infakkan kepadanya. Ketika hartaku tinggal sedikit, ternyata ayahnya tidak suka lagi kepadaku dan mengadukan diriku kepada petugas di bawah perintahmu yang berkedudukan di Kufah, Ibnu Ummi Al Hakam. Sampailah kepadanya berita tentang kecantikannya, sehingga ia memenjarakanku di dalam terali besi dan memaksaku untuk menceraikannya. Ketika iddahnya telah usai, petugasmu itu memberinya 10.000 dirham, lalu menikahinya. Oleh karena itu, aku datang menghadap kepadamu, wahai Amirul Mukminin, karena aku tahu engkau orang yang paling benci kejahatan. Jadi, adakah jalan keluar?”
Dia lalu menangis seraya bersyair:

Dalam hatiku kobaran api
Api yang penuh dengan bara
Tubuhku telah menjadi lunglai
Warnanya telah pucat kekuningan
Mata ini selalu menangis sedih
Air matanya mengalir deras
Cinta adalah penyakit yang sulit
karenanya dokter sering gusar
Aku membawa cinta yang terlalu berat
Sungguh aku tidak bisa bersabar
Malamku bukanlah malam dan siangku juga bukan siang

Mu’awiyah membatalkan pernikahan itu deminya. Ia menulis surat yang ditujukan kepada Ibnu Ummi Al Hakam yang berisi cercaan dan hinaan atas perbuatannya. Ia perintahkan dengan tegas agar menceraikan istrinya itu.

Ketika sampai kepadanya surat Mu’awiyah, ia bernapas panjang, lalu berkata, “Aku berharap Amirul Mukminin membiarkanku berdua dengannya selama setahun saja. Lalu dia mengacungkan pedangnya kepadaku agar aku menceraikannya. Namun, aku tidak mampu melakukan itu.”

Jiwanya tidak mampu membalasnya dan tukang pos yang membawa surat itu terus mendesaknya. Ia pun menceraikan istrinya dan mengeluarkannya dari rumahnya, lalu mengirimkannya melalui seorang utusan kepada Mu’awiyah.

Ketika wanita itu berdiri di depannya, Mu’awiyah menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Ketika ia mengajaknya berbicara, ternyata ia orang yang paling fasih dan paling manis bahasanya di antara orang Arab. Ia adalah wanita yang paling sempurna kecantikannya.

Ia pun berkata kepada anak Pamannya (pemuda tadi-red), “Wahai badui (arab pedalaman-red), apakah ada kebahagiaan yang lebih besar dengan tanpa kecintaan kepadanya?” la menjawab, “Ya benar, yakni jika engkau memisahkan antara kepala dengan badanku“. Ia lalu bersyair,

Janganlah engkau jadikan aku laksana pepatah
“Laksana peminta tolong dari panasnya api”
Kembalikan Su ‘ad kepada yang bingung dan sedih
Pagi dan petang selalu dalam kesedihan dan bayangan
Kesedihannya terus bertambah menjadi tiada tara
Jantungnya terbakar api dahsyat karenanya
Demi Allah, dan demi Allah takkan kulupa cintanya
hingga aku hilang ditelan tanah dan bebatuan
Bagaimana ada kebahagiaan,
sedangkan hati hanya cinta kepadanya?
Hati ini tiada bisa sabar untuk bertemu dengannya?

Mu’awiyah lalu berkata, “Kami akan memberinya pilihan untuk memilihku atau memilihmu atau memilih Ibnu Ummi Al Hakam”. Wanita itu lalu bersyair,

Sekalipun dia menjadi papa
dan kemudahannya menjadi berkurang
la lebih mahal bagiku daripada Ayahku, tetanggaku,
pemilik dirham, dan pemilik dinar
Jika mengkhianatinya,
aku khawatir dengan panasnya neraka

Mu’awiyah pun tertawa dan memerintahkan agar pemuda itu diberi 10.000 dirham, kendaraan, dan sebidang tanah. Ketika iddahnya telah usai, pemuda itu dinikahkan dengannya, dan wanita itu diserahkan kembali kepadanya.

——-

[1] Text Judul kisah ini berasal dari Admin blog sendiri
[2] Ibnu Katsir, Ringkasan Bidayah wa Nihayah. DR. Ahmad Al Khani. Terjemahan.
[3] Dalam naskah aslinya terdapat pada Juz 8 hal. 89. Albidayah wa Annihaayah. Ibnu Katsir. Ebook Compiled by www.islamspirit.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: