Al-Muhtadi Billah

Al-Muhtadi Billah adalah seorang khalifah yang shaleh. Dia bernama Muhammad dan dipanggil Abu Ishaq. Ada pula yang menyebutnya Abu Abdullah bin al-Watsiq bin al-Mu’tashim bin ar-Rasyid. Ibunya adalah seorang mantan budak yang bernama Wardah.

Dia dilahirkan pada pemerintahan kakeknya (al-Mu’tashim) pada tahun 210 lebih. Dia dilantik sebagai khalifah pada akhir bulan Rajab tahun 255 H. Beliau adalah khalifah ke-14 dari bani Abbasiyah, berdasarkan kitab Tarikh Khulafa Imam As Suyuthi.

Awalnya tidak ada yang menerima pembaiatannya sehingga akhirnya al-Mu’taz didatangkan dan dia dengan sukarela menyatakan penyerahan kekhilafahan kepadanya. Pada saat penyerahan kekuasaan ini, al-Muhtadi duduk di antara al-Mu’taz.

Kemudian didatangkanlah para saksi yang memberatkan al-Mu’taz dan bahwa dia adalah seorang khalifah yang tidak mampu untuk mengendalikan roda khilafah. Al-Mu’taz mengakui apa yang dikatakan oleh para saksi itu dan dia mengulurkan tangannya menyatakan pembaiatannya kepada al-Muhtadi. Akhirnya al-Muhtadi menguasai pertemuan itu dan dia resmi menjadi khalifah.

Al-Muhtadi sendiri berkulit sawo matang, perasaannya sangat halus, wajahnya rupawan, seorang yang dikenal sangat wara, ahli ibadah dan adil kepada rakyatnya. Dia adalah khalifah yang sangat kuat dalam memegang aturan Allah dan seorang pahlawan pemberani di medan perang. Hanya saja dia tidak mendapatkan orang-orang yang bisa membantunya.

Al-Khathib berkata: Dia adalah khalifah yang terus melakukan puasa dari sejak menjabat sebagai khalifah hingga dia dibunuh.

Hasyim bin al-Qasim berkata: Pada suatu malam menjelang Isya’ di bulan Ramadhan saya berada bersama al-Muhtadi. Saya beranjak ingin pulang, namun dia mencegah saya dan berkata, “Duduklah!”
Makanya saya duduk. Kemudian dia maju untuk menunaikan shalat dan dia menjadi imam. Setelah usai shalat dia mengajak makan malam. Dia hadirkan satu nampan yang di atasnya ada sepotong roti yang bersih dan tempat kecil yang berisi garam, cuka dan minyak. Dia kemudian mengajak saya makan. Saya mulai makan dengan perkiraan bahwa akan ada makanan baru yang akan dikeluarkan.
Al-Muhtadi melihat kepada saya sambil berkata, “Bukankah kau tadi menunaikan puasa?”
Saya jawab, “Ya!”
“Tidakkah kau berniat untuk menunaikan puasa di esok hari?” lanjutnya.
Saya jawab, “Ya! bagaimana tidak bukankah besok masih bulan puasa?”
Dia berkata, “Makanlah dan cukupkan makanmu sebab di sini tak ada makanan lain selain apa yang kamu lihat!”
Saya merasa terkejut dengan apa yang dia katakan. Lalu saya katakan kepadanya, “Mengapa semua ini terjadi wahai Amirul Mukminin, bukankah Allah telah mencukupkan nikmat-Nya kepadamu?”
Dia berkata, “Apa yang kamu katakan itu adalah benar, namun saya berpikir bahwa di kalangan Bani Umayyah itu ada seorang yang bernama Umar bin Abdul Aziz. Dan kau tahu sendiri bagaimana dia menyikapi dunia ini. Saya merasa cemburu dengan apa yang dilakukan oleh Bani Hasyim. Maka saya mengambil sikap seperti yang kau saksikan.”

Ja’far bin Abdul Wahid berkata: Saya mengatakan sesuatu kepada al-Muhtadi. Saya katakan Kepadanya, “Ahmad bin Hambal telah mengatakan seperti apa yang dia katakan, dan mereka menentang-nya.” (yang dia maksudkan adalah nenek moyangnya).
Dia berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, andaikata boleh bagi saya untuk ber-lepas diri dari apa yang dilakukan oleh ayah saya, maka akan saya lakukan itu.”
Kemudian dia berkata kepada saya, “Katakan yang hak, sesungguhnya dalam pandangan saya orang yang berkata benar demikian berharga dan terhormat.”

Nafthawaih berkata: Sebagian orang Bani Hasyim berkata kepada saya, bahwa mereka mendapatkan al-Muhtadi memperbaiki sendiri jubah wol yang dia pakai pada malam hari dan dia memakainya untuk shalat. Dia sama sekali membuang jauh-jauh semua bentuk foya-foya dan dia haramkan nyanyian. Dia mengawasi dengan ketat para penguasa yang dianggap sering melakukan kejahatan. Dia begitu ketat mengawasi masalah keuangan negara. Bahkan sering kali dia mengawasi dalam penghitungannya. Dia juga tidak membiarkan orang-orang duduk-duduk saja pada hari Senin dan Kamis. Dia sering memerintahkan agar orang-orang zhalim segera diberi sangsi dengan pukulan. Dia juga telah mengasingkan Ja’far bin Mahmud ke Baghdad dan dia sangat tidak senang kepada posisi yang diduduki Ja’far karena dikabarkan kepadanya, bahwa dia cenderung kepada Syiah Rafidhah.

Musa bin Bugha datang dari Ray menuju Samura dengan tujuan untuk membunuh Shaleh bin Washif yang telah dengan kejam membunuh al-Mu’taz dan dia telah mengambil harta ibunya. Musa datang bersama sejumlah tentara. Orang-orang yang datang itu berteriak dengan keras menyebut Shaleh bin Washif dengan Fir’aun: Wahai Fir’aun, kini telah datang kepadamu Musa!”

Musa bin Bugha meminta kepada penjaga istana untuk bisa menemui al-Muhtadi, namun para pengawalnya tidak mengijinkan dia masuk. Akhirnya dia memaksa masuk pada saat al-Muhtadi berada di ruang tempat dia memutuskan perkara. Mereka kemudian memaksa al-Muhtadi untuk berdiri dan menaikkannya di atas kuda yang sangat lemah. Mereka merampas istana serta memasukkan al-Muhtadi ke rumah Najud. Pada saat itulah al-Muhtadi berkata, “Wahai Musa, bertakwalah kepada Allah! Celaka kamu! Apa yang kamu maui dengan tindakanmu ini?”
Dia berkata, “Tak ada yang saya inginkan kecuali kebaikan. Maka saya memintamu untuk bersumpah bahwa engkau tidak akan mendukung Shaleh bin Washif.”

Maka bersumpahlah al-Muhtadi. Dan mereka pun membaiatnya saat itu. Lalu mereka meminta agar Shaleh dikeluarkan dan mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan di hadapan mereka. Mendengar permintaan itu Shaleh segera bersembunyi. Al-Muhtadi meminta Musa agar melakukan perdamaian dengan Shaleh.

Rupanya tawaran ini mendapat tanggapan salah dari Musa dan tentaranya. Musa menyangka bahwa al-Muhtadi mengetahui dimana persembunyian Shaleh saat ini. Maka muncullah desas-desus yang demikian santer di tengah-tengah mereka, bahkan mereka membicarakan tentang pemecatan al-Muhtadi dari kursi khilafah.

Melihat tindakan mereka yang sudah dianggap keterlaluan, al-Muhtadi akhirnya keluar menghadapi mereka dengan menghunus pedang. Dia berkata, “Telah sampai kepadaku apa yang kalian lakukan, namun jangan sangka aku laksana dua orang yang pernah kalian datangi. Aku bukanlah ai-Musta’in dan ai-Mu’taz. Demi Allah, tidaklah  aku keluar menemui kalian kecuali aku saat ini telah siap menghadapi maut dan saya telah berwasiat kepada keluargaku. Ini adalah pedangku. Demi Allah, aku akan menebaskan pedang ini selama aku masih memegang gagangnya. Tidakkah kalian memiliki agama? Tidak adakah pada kalian rasa malu? Tidakkah kalian memiliki perasaan? Tidak ada perselisihan atas khalifah dan tidak ada kekurangan pada ajaran Allah!
Kemudian dia berkata,”Saya tidak tahu dimana Shaleh berada!”

Akhirnya Musa dan orang-orangnya dapat menerima terhadap apa yang dikatakan oleh al-Muhtadi dan mereka pun bubar. Pada saat itulah Musa bin Bugha  mengumumkan bahwa barangsiapa yang mampu menangkap Shaleh, maka orang itu akan mendapat hadiah uang sebanyak sepuluh ribu dinar, namun tidak ada seorang pun yang mampu menemukan dimana tempat persembunyian Shaleh.

Hingga akhirnya ada seorang anak yang masuk ke dalam lorong kecil di siang bolong. Dia dapatkan satu pintu terbuka lalu masuk ke dalam lorong kecil itu, kemudian dia berjalan di lorong gelap itu, tiba-tiba dia melihat Shaleh sedang tidur di tempat itu. Anak tadi mengenal bahwa orang yang sedang tidur itu adalah Shaleh yang saat itu tidak dikawal oleh siapa pun. Anak tadi kemudian datang menemui Musa dan memberitahukannya.

Musa yang gembira mendengar kabar itu segera mengirim sejumlah orang-orangnya untuk menangkap Shaleh. Akhirnya mereka berhasil menangkap Shaleh dan mereka memotong kepalanya dan mengaraknya. Al-Muhtadi sangat sedih batinnya mendengar kejadikan itu.

Musa kemudian berangkat menuju Sind untuk menuntut Musawar. Saat kepergiannya dia ditemani oleh Bikyal. Al-Muhtadi kemudian menulis surat kepada Bikyal. Surat itu berisi permintaan agar dia membunuh Musa dan Muflih, salah seorang pemimpin orang-orang Turki atau menangkapnya secara hidup-hidup. Dalam surat itu dijelaskan bahwa jika Bikyal mampu membunuh Musa, maka dia akan diangkat menjadi pemimpin orang-orang Turki secara keseluruhan. Bikyal sendiri ternyata memberitahukan surat tu kepada Musa dan berkata, “Saya tidak suka dengan isi surat ini. Sesungguhnya dia akan menghancurkan kita semua!”

Akhirnya mereka semua sepakat untuk membunuh al-Muhtadi dan mereka pun berangkat kembali menuju al-Muhtadi. Bersama al-Muhtadi ada para tentara dari Wilayah Maghrib, Farghanah dan Asrusiniyyah. Dalam sehari saja ada empat ribu orang Turki yang mati terbunuh. Pertempuran berlangsung terus hingga akhirnya tentara khalifah mengalami kekalahan. Al-Muhtadi sendiri tetap bertahan hingga dia tertimpa sakit pada buah pelirnya. Akhirnya dia meninggal dunia.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab tahun 256 H. Dengan demikian dia hanya sempat menjadi khalifah dalam jangka waktu setahun kurang lima belas hari.

Tatkala orang-orang Turki melakukan pemberontakan kepada al-Muhtadi, orang-orang merasa terpanggil untuk melakukan pembelaan sehingga mereka menulis tulisan-tulisan di atas kertas lalu mereka letakkan di masjid. Tulisan-tulisan itu antara lain berbunyi: Wahai seluruh kaum muslimin, berdoalah kalian untuk khalifah kalian yang adil yang diridhai yang serupa dengan Umar bin Abdul Aziz. Semoga Allah menolongnya atas musuh-musuhnya.

Referensi:
AS-SUYUTHI, Imam; TARIKH KHULAFA`, Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: AL-KAUTSAR, 2006. ISBN 9795921754

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: