Islamnya ‘Ikrimah bin Abi Jahl

sumber: http://www.asysyariah.com

Setelah pasukan kecilnya dihancurkan oleh pasukan Khalid bin Al-Walid radhiyallahu ‘anhu, ketakutan menyelinap di hati ‘Ikrimah. Dia tahu, dia dan ayahnya adalah orang yang paling sengit memusuhi Islam dan muslimin. ‘Ikrimah tahu apa yang diterimanya jika dia tetap di Makkah. Akhirnya, dia melarikan diri hingga sampai di tepi laut.  Ketika sudah berada di atas kapal, mereka diterjang badai. Maka mulailah penumpang berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mentauhidkannya, dan berkata: “Sesungguhnya tempat ini tidak ada yang berguna kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Kata ‘Ikrimah: “Apa yang harus kuucapkan?”
“Ucapkanlah Laa ilaaha illallahu,” kata nakhoda kapal.
“Justru aku melarikan diri dari kalimat ini,” katanya.

Kemudian sampailah Ummu Hakim (istrinya) yang menyusulnya ke pantai itu, lalu berkata: “Hai putra pamanku. Aku datang dari orang yang paling suka menyambung tali kasih sayang, paling berbakti, dan paling baik. Janganlah kau rusak dirimu.”
‘Ikrimah berhenti hingga Ummu Hakim mendekat dan berkata: “Aku sudah memintakan jaminan keamanan untukmu kepada Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
‘Ikrimah seperti tak yakin mendengarnya: “Engkau? Engkau melakukannya?”
“Ya, aku sudah bicarakan dengan beliau lalu beliau memberi jaminan keamanan,” kata Ummu Hakim.
‘Ikrimah pun kembali bersama Ummu Hakim. ‘Ikrimah bertanya: “Apa yang dilakukan budakmu kepadamu?”
Ummu Hakim menceritakan bagaimana dia dirayu oleh budak tersebut. Mendengar ini ‘Ikrimah pun membunuh budak itu.

Di perjalanan, ‘Ikrimah membujuk Ummu Hakim melayaninya, tetapi ditolak oleh Ummu Hakim, katanya: “Sesungguhnya kamu kafir, sedangkan aku seorang wanita muslimah.”
Kata ‘Ikrimah: “Sesuatu yang menghalangimu ini betul-betul urusan yang sangat besar.”
Setibanya di Makkah, ‘Ikrimah dan Ummu Hakim segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu melihatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut dan mengucapkan selamat datang kepadanya. ‘Ikrimah berdiri di hadapan beliau sementara istrinya menutupi mukanya dengan sehelai cadar. Dia pun berkata: “Ya Muhammad, sesungguhnya wanita ini menerangkan bahwa engkau memberiku jaminan keamanan?”
Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dia benar, dan engkau aman.”
Lalu dia pun berkata: “Kepada apa engkau mengajakku, wahai Muhammad?”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Aku mengajakmu agar bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan berbuat (kebaikan), …” dan seterusnya. Beliau pun menyebutkan beberapa perilaku Islam.
‘Ikrimah berkata: “Demi Allah. Tidaklah engkau mengajak kami melainkan kepada yang haq dan urusan yang baik lagi indah.”

Kemudian ‘Ikrimah melanjutkan: “Sungguh, aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”
Mendengar ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat gembira. Kemudian beliau berkata setelah menerangkan apa yang harus dilakukan ‘Ikrimah: “Tidaklah seorang pun yang memintaku sesuatu pada hari ini melainkan pasti aku beri.”
‘Ikrimah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia berkata: “Kalau begitu, saya memintamu agar memintakan ampunan kepada Allah untukku atas segala permusuhanku terhadapmu atau semua ucapan yang kuucapkan di depan atau di belakangmu.”
Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Allah, ampunilah dia atas semua permusuhannya dan upayanya memadamkan cahaya (agama)-Mu. Ampunilah dia atas perbuatannya terhadap pribadiku, di depan atau di belakangku.”
‘Ikrimah pun berkata: “Aku ridha, wahai Rasulullah. Tidak aku biarkan nafkah yang dahulu kuberikan melawan Islam, melainkan aku infakkan berkali lipat di jalan Allah. Tidak pula peperangan yang dahulu kuikuti menghalangi manusia dari jalan Allah, melainkan aku akan terjun berkali lipat di jalan Allah.”

Setelah ‘Ikrimah masuk Islam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan istrinya (Ummu Hakim, red.) kepada ‘Ikrimah dengan nikah yang pertama.

Islam mulai merambah dalam hati ‘Ikrimah. Muhajir yang kehausan ini betul-betul merasakan telaga bening Islam. Sikap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang begitu hangat menyambut kehadirannya membuatnya malu bila teringat begitu sengit dendam dan permusuhan dia serta ayahnya terhadap Islam dan kaum muslimin, terlebih pribadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lihatlah apa yang dimintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukan dunia. Dia hanya minta agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Sejarah telah membuktikan kejujurannya memeluk Islam, keuletannya menebus dan mengubur masa lalunya yang hitam. Yarmuk, salah satu daerah di negeri Syam menceritakan bagaimana singa-singa Allah Subhanahu wa Ta’ala menerkam musuh-musuh mereka. Kekuatan dan perlengkapan musuh yang begitu dahsyat, ternyata tidak meluluhkan tekad mereka; menang atau mati syahid.

Ketika ‘Ikrimah sudah bersiap menembus pasukan musuh, Khalid bin Al-Walid saudara sepupunya berkata: “Jangan lakukan. Kematianmu sangat merugikan kaum muslimin.”
Kata ‘Ikrimah: “Biarlah, hai Khalid, karena kau telah pernah ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apalagi ayahku sangat hebat memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
‘Ikrimah menerobos ke tengah-tengah pasukan musuh yang berjumlah puluhan ribu orang bersama beberapa ratus prajurit muslim lainnya.

Diceritakan, bahwa dia pernah berkata ketika perang Yarmuk: “Aku dahulu memerangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di setiap medan pertempuran. Hari ini, apakah aku akan lari dari kalian (yakni pasukan lawan, red.)?” Lalu dia berseru: “Siapa yang mau berbai’at untuk mati?” Maka berbai’atlah Al-Harits bin Hisyam, Dhirar bin Al-Azwar bersama empat ratus prajurit muslim lainnya.  Mereka pun maju menggempur musuh di depan kemah Khalid sampai satu demi satu mereka jatuh berguguran sebagai kembang syuhada.

Kata Az-Zuhri: “Waktu itu, ‘Ikrimah adalah orang yang paling hebat ujiannya. Luka sudah memenuhi wajah dan dadanya sampai ada yang mengatakan kepadanya: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, kasihanilah dirimu’.”
Tapi ‘Ikrimah menukas: “Dahulu aku berjihad dengan diriku demi Latta dan ‘Uzza, bahkan aku serahkan jiwaku untuk mereka. Lantas, sekarang, apakah harus aku biarkan jiwaku ini tetap utuh karena (membela) Allah dan Rasul-Nya? Tidak. Demi Allah, selamanya tidak.” Maka, hal itu tidaklah menambahi apapun selain beliau semakin berani menyerang hingga gugur sebagai syahid. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai ‘Ikrimah.

2 Responses to Islamnya ‘Ikrimah bin Abi Jahl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: