Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi Radliallaahu ‘Anhu

(Sumber: Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, JILID 1)

Thufail bin Amr berkata bahwa ketika ia tiba di Makkah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih berada di dalamnya, Thufail bin Amr adalah orang terhormat, penyair dan orang jenius. Orang-orang Quraisy berkata kepada Thufail bin Amr, “Hai Thufail, engkau telah tiba di negeri kami dan orang ini (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) yang ada di tengah-tengah kita telah membuat repot. Sungguh, ia telah memecal belah persatuan dan mengacaukan urusan kita. Ucapannya seperti sihir yang memisahkan seseorang dengan ayahnya, memisahkan seseorang dengan saudaranya dan memisahkan seseorang dengan istrinya. Sungguh kita khawatir kalau apa yang telah terjadi pada kami itu akan terjadi padamu dan pada kaummu. Oleh karena itu, engkau jangan bicara dengannya dan jangan mendengar sesuatu pun darinya!”

Thufail bin Amr berkata, “Demi Allah, mereka terus-menerus berkata seperti itu kepadaku hingga aku berjanji tidak akan mendengarkan sesuatu pun dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tidak berbicara dengan beliau hingga sampai pada tarap menutup kedua telingaku dengan kapas karena takut ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke kedua telingaku, dan aku tidak ingin mendengar sesuatu apa pun dari beliau. Pada suatu hari, aku pergi ke masjid, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri shalat di samping Ka’bah, kemudian aku berdiri dekat dengan beliau.

Ternyata Allah Ta’ala menghendakiku mendengarkan sebagian ucap­annya kepadaku. Sungguh aku mendengar ucapan yang amat indah, kemu­dian aku berkata dalam diriku, ‘Semoga ibuku menjanda, demi Allah, sungguh aku orang jenius sekaligus penyair yang ahli membedakan antara yang baik dengan yang buruk, maka apa salahnya kalau aku mendengar apa yang dikatakan orang ini (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam). Jika yang ia bawa adalah kebaikan, maka aku menerimanya. Jika yang dibawanya adalah keburukan, maka aku meninggalkannya, ‘Aku diam terpaku di tempatku hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke rumahnya. Aku membuntuti hingga beliau masuk ke dalam rumahnya. Ketika beliau masuk ke dalam rumahnya, aku ikut masuk ke dalamnya. Aku berkata, ‘Hai Muham­mad, sesungguhnya kaummu telah berkata kepadaku ini dan itu. Demi Allah, mereka tidak henti-hentinya menakut-nakutiku terhadap permasalahanmu, hingga aku menutup kedua telingaku dengan kapas agar tidak bisa mendengar ucapanmu, namun Allah Ta’aa menghendakiku mendengarkan ucapanmu. Ya, aku mendengar ucapan yang indah sekali. Coba terangkan permasalahanmu kepadaku!’.

Thufail bin Amr berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan tentang Islam kepadaku dan beliau membacakan Al-Qur’an kepadaku. Demi Allah, aku belum pernah mendengar ucapan seindah Al-Quran dan sesuatu yang lebih adil daripada Islam. Kemudian aku masuk Islam dan bersaksi dengan kesaksian yang benar. Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku orang yang ditaati di kaumku. Aku akan pulang kepada mereka dan mengajak mereka kepada Islam. Oleh karena itu, ber-doalah kepada Allah agar Dia memberiku satu tanda yang bisa membantuku dalam mendakwahi mereka”.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Ya Allah, berilah dia satu tanda.’ Setelah itu, aku pulang kepada kaumku. Ketika aku berada di tsaniyyah (jalan di antara dua gunung) yang bisa membuatku melihat rumah-rumah kaumku, tiba-tiba di kedua mataku terdapat sinar seperti lampu. Aku berkata, ‘Ya Allah, kalau bisa sinar ini pindahkan ke selain wajahku. Sungguh aku khawatir kaumku mengira bahwa sinar tersebut adalah hukuman di wajahku karena meninggalkan agama mereka.’ Kemudian sinar tersebut pindah ke ujung cambukku dan orang-orang bisa melihat sinar di cambukku seperti lampu yang menggantung, sementara aku turun ke tempat mereka dari Tsaniyyah hingga akhirnya aku tiba di tempat mereka esok paginya.

Masuk Islamnya Ayah dan Istri Thufail bin Amr

Thufail bin Amr berkata, “Ketika aku tiba di rumah, ayahku yang sudah lanjut usia mendekat kepadaku. Aku berkata, ‘Ayah jangan mendekat kepa­daku, karena aku tidak lagi termasuk golonganmu dan engkau tidak lagi termasuk golonganku.’ Ayahku berkata, ‘Kenapa begitu anakku?’ Aku berkata, ‘Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.’ Ayahku berkata, ‘Anakku, agamaku adalah juga agamamu.’ Aku berkata, ‘Pergilah kemudian mandilah dan cucilah pakaianmu! Setelah itu, datanglah kepadaku agar aku mengajarimu apa yang telah diajarkan kepadaku.’ Ayah pun pergi, kemudian mandi dan mencuci pakaiannya. Setelah itu, ia datang kepadaku, kemudian aku jelaskan Islam kepadanya dan ia pun masuk Islam.

Kemudian istriku mendekat kepadaku. Aku berkata kepadanya, ‘Engkau jangan mendekat kepadaku, karena aku tidak lagi termasuk golonganmu dan engkau tidak lagi termasuk golonganku.’ Istriku berkata, ‘Kenapa begitu, demi ayah dan ibuku?’ Aku berkata, ‘Islam telah memisahkan aku denganmu dan aku telah mengikuti agama Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam’ Istriku berkata, ‘Agamaku adalah juga agamamu.’ Aku berkata, ‘Pergilah ke samping berhala Dzi Asy-Syara (Ibnu Hisyam berkata bahwa Thufail bin Amr berkata, ‘Pergilah ke tempat berhala Dzi Asy-Syara!’), kemudian mandilah di sana! Dzi Asy-Syara adalah berhala kabilah Daus. Kabilah Daus melindungi tempat berhala tersebut dan di tempat tersebut terdapat jeram air yang turun dari gunung. Istriku berkata, ‘Demi ayah dan ibuku, apakah engkau takut kalau berhala Dzi Asy-Syara berbuat sesuatu terhadap anak kecilmu ini?’ Aku berkata, ‘Aku tidak takut dan aku jamin tidak akan terjadi sesuatu pada anak kecil kita.’ Istriku segera pergi untuk mandi. Setelah itu, ia datang kepadaku, kemudian aku terangkan Islam kepa­danya dan ia pun masuk Islam.

Setelah itu, aku mengajak kabilah Daus kepada Islam, namun mereka agak lamban merespon dakwahku, kemudian aku datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Makkah. Aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Wahai Nabi Allah, sesungguhnya zina telah menyebar luas di kabilah Daus, maka berdoalah kepada Allah untuk mereka.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, ‘Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Daus.’ Pergilah engkau kepada kaummu, kemudian dakwahilah mereka dan bersikap lemah-lembutlah terhadap mereka.’

Aku tetap berada di kabilah Daus untuk mengajak mereka kepada Islam hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah dan hingga terjadinya Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Aku pergi menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan membawa orang-orang dari kaumku yang telah masuk Islam dan ketika itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di Khaibar. Aku tiba di Madinah dengan membawa tujuh puluh atau delapan puluh kepala keluarga yang telah masuk islam, kemudian kami menyusul Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Khaibar dan beliau memberi kami jatah seperti kaum Muslimin yang lain. Setelah itu, aku selalu bersama Rasulullah Shallal­lahu Alaihi wa Sallam hingga ketika Allah menaklukkan Makkah untuk beliau, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kirimlah aku kepada berhala Dzu Al-Kafain -berhala milik Amr bin Humamah- untuk mernbakamya’

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Thufail bin Amr berangkat menuju berhala Dzu Al-Kafaini, kemudian ia menyalakan api pada berhala tersebut sambil berkata,

Wahai berhala Dzu Al-Kafain, aku tidak lagi termasuk hamba-hambamu
Kelahiranku lebih dahulu dari pada kehhiranmu
Sesungguhnya aku mengisikan api di hatim

Mimpi Thufail bin Amr dan Maknanya

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Thufail bin Amr menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sailarn. la selalu bersama beiiau di Madinah hingga Allah Ta’aa memanggil beliau. Ketika orang-orang Arab murtad, Thufail bin Amr keluar bersama kaum Muslimin. la berangkat bersama mereka hingga berhasil menaklukkan Thulaihah (gembong orang-orang murtad) dan seluruh Negeri Najed.

Setelah itu, Thufail bin Amr berangkat bersama kaum Muslimin menuju Yamamah (untuk memerangi Musailamah) dengan diikuti anaknya, Amr bin Thufail. Thufail bin Amr bermimpi dalam perjalanannya ke Yama­mah. la berkata kepada sahabat-sahabatnya, ‘Sesungguhnya aku bermimpi, maka jelaskan kepadaku arti mimpiku. Aku bermimpi bahwa kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, aku berpapasan dengan seorang wanita kemudian ia memasukkanku ke dalam vaginanya, anakku meminta sesuatu kepadaku dengan memaksa, kemudian aku lihat anakku terpisah dariku’ Mereka berkata, ‘Itu pertanda baik.’ Thufail bin Amr berkata, ‘Demi Allah, aku bisa menjelaskan makna mimpiku tersebut.’ Mereka berkata, ‘Bagaimana?’ Thufail bin Amr berkata, ‘Kepalaku dicukur artinya ia diletakkan. Burung yang keluar dari mulutku ialah nyawaku. Wanita yang memasukkanku ke dalam vaginanya artinya tanah digali untukku kemudian aku dimasukkan ke dalamnya. Permintaan anakku kepadaku kemudian ia terpisah dariku artinya bahwa ia ingin sekali merasakan seperti yang aku rasakan’ Thufail bin Amr Rahimahullah gugur sebagai syahid di Perang Yamamah, sedang anaknya mendapatkan luka parah kemudian sembuh, dan gugur sebagai syahid di medan Perang Yarmuk pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu.”

About these ads

3 Responses to Thufail bin ‘Amr Ad-Dausi Radliallaahu ‘Anhu

  1. Subhanallah, kalau dakwah membekas di seorang tokoh yang dipanuti, dakwah lebih mudah menyebar :)

    Salam tembakan sudut :D

  2. supriman says:

    Masi inget aja tembakan sudutnye… :P

  3. ompunk says:

    masih inget aja tembakan sudutny :D:P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: